“Bukan Saya, Boss!!!”

Mei 1, 2008 at 2:59 am Tinggalkan komentar

Ini cerita dari seorang teman yang bertahun silam pergi ke Papua
New Guinea untuk urusan bisnis. Ia ditemani oleh dua orang temannya dan

tinggal di sebuah rumah di pedalaman. Rumah ini dirawat oleh seorang
lokal, yang tugasnya hanya dua yakni merawat rumah dan memasak.
Semuanya oke-oke saja, kecuali satu hal: mereka punya satu botol
anggur yang mahal yang disimpan di ruang makan, yang setiap harinya
sepertinya terus berkurang padahal mereka tidak pernah meminumnya.
Anggur ini mahal dan mereka ingin menyimpannya untuk acara spesial. Yang
mereka
temukan adalah setiap hari jumlahnya sedikit demi sedikit berkurang.

Mereka pun memutuskan untuk mengukur kekurangannya dengan membuat garis
kecil pada botol, sehingga apabila memang berkurang lagi mereka bisa
tahu dengan jelas. Dan setelah membuat garis tersebut, mereka menemukan
memang jumlah anggur dalam botol tersebut berkurang terus setiap hari,
walau sedikit demi sedikit. Mereka tidak punya tertuduh lain lagi selain
sang penunggu rumah lugu tersebut, sebab ketiganya memang jarang di
rumah.

Suatu kali ketiganya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan mereka
merencanakan memberi pelajaran si penunggu rumah. Mereka mengambil
botol anggur dan mengganti isinya dengan air seni mereka. Setelah itu
mereka letakan kembali seperti biasa. Dan yang
mereka temukan, setiap hari jumlah air seni ini pun berkurang seperti
halnya anggur.

Suatu hari mereka tidak tega lagi membayangkan bahwa si penunggu rumah
yang baik hati ini sampai meneguk air seni mereka. Mereka memutuskan
untuk memanggil si penunggu rumah dan menanyakan perihal anggur.
Dan dengan gaya yang tidak menuduh langsung, mereka mengatakan bahwa
mereka perhatikan persediaan anggur mereka di satu-satunya botol di
rumah itu selalu menipis, dan pasti ada seorang di rumah ini yang
meminumnya!

Serta merta si penunggu rumah polos ini menyahut “Not me, Boss!
Selama ini saya hanya selalu pakai untuk keperluan memasak untuk para
Boss!”

Moral kisah :

Kalau bisa bertanya, kenapa berasumsi?

Kalau bisa sederhana, kenapa dibuat rumit?

Kadang kita justru mendapatkan akibat dari perbuatan kita sendiri,
yang sebenarnya tidak perlu.

Sumber : Anonymous

Entry filed under: inspirasi. Tags: .

BAGAIMANA MEMIMPIN DENGAN KETELADANAN ? siapakah wanita berhati mulia yang melahirkan dan mendidik anak itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: