Kejarlah EQ, Sukses Kau Tangkap!

Agustus 6, 2008 at 5:52 am Tinggalkan komentar

Belum kering peluh di dahi Yola, ibunya menyodorkan selembar catatan berisi daftar hafalan penjumlahan.

Sejam lalu murid SD kelas I itu mendapat nilai jelek untuk pelajaran matematika di sekolah. “Kalau tambah-tambahan saja enggak hafal, mana bisa mendapat ranking satu?” kata ibunya. Si anak yang lelah cuma pasrah. “Memangnya, siapa yang tak mau dapat ranking satu?” batinnya protes.

Kata ranking di dunia sekolah memang lebih mewakili kepentingan orangtua ketimbang anak. Ranking juga simbol, betapa kecerdasan intelektual (IQ) masih didewakan sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan. Kemampuan anak didik hanya diukur dari nilai akademis. Jika nilai rapornya mencapai skala 8 – 10, ia akan dianggap anak pandai, cerdas, pintar. Padahal “kepintaran” di atas kertas itu bukanlah “kepintaran” sejati.

Sialnya, pemahaman salah kaprah itu diyakini sebagian besar dari kita, orangtua. Siapa yang ber-IQ tinggi kelak bakal sukses hidupnya ketimbang orang yang IQ-nya rata-rata. Padahal dalam praktik, tidak selalu demikian. Misal, Tak sedikit pemiliki IQ tinggi justru terpental dari ketatnya persaingan memasuki dunia kerja.

“Mereka yang IQ-nya biasa-biasa saja malah bisa menjadi selebriti,“ canda Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, guru besar Fakultas Psikologi, Universitas Indonesia, Jakarta.

Langsung Praktik

Hasil penelitian Daniel Coleman (1995 dan 1998) menguatkan ucapan Sarlito.

Konon IQ hanya memberi kontribusi 20% dari kesuksesan hidup seseorang. Selebihnya bergantung pada kecerdasan emosi (emotional intelligence, EI atau EQ) dan sosial yang
bersangkutan. Di sisi lain, 90% “keberhasilan kerja” manusia ternyata ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya, sisanya (sekitar 4%) jatah kemampuan teknis.

Ada juga penelitian jangka panjang terhadap 95 mahasiswa Harvard jebolan tahun 1940-an. Puluhan tahun kemudian, mereka yang kerap mendapat nilai tes paling tinggi di perguruan
tinggi dulu ternyata hidupnya tak terlalu sukses dibandingkan dengan rekan-rekannya yang ber-IQ biasa saja. Dalam hal ini kesuksesan diukur lewat besaran gaji, produktivitas, serta
status bidang pekerjaan mereka.

Dalam sebuah survei terhadap ratusan perusahaan di AS, terungkap pula faktor yang menjadikan seorang pemimpin atau manajer jauh lebih berhasil dari yang lain. Yang terpenting bukan kemampuan teknis atau analisis, tapi justru hal yang berkaitan dengan emosi atau perasaan dan hubungan personal. Empat hal yang paling menonjol adalah
kemauan, keuletan mencapai tujuan, kemauan mengambil inisiatif baru, kemampuan bekerja sama dan kemampuan memimpin tim.

Celakanya, jor-joran mengejar IQ tinggi sampai hari ini kerap terjadi. Masih menurut penelitian, IQ manusia rata-rata meningkat 20 poin dalam 20 tahun terakhir. Artinya, di atas kertas, orang makin cerdas.

Tapi, apakah kecenderungan itu membuat hidup manusia jadi lebih bahagia?

Ternyata tidak. Di balik tingginya IQ itu kemampuan manusia memahami dan mengendalikan emosi – inilah yang disebut Peter Salovey dan John Meyer sebagai emotional inteligence (EI) atau kecerdasan emosi – malah menurun.

Survei juga menunjukkan adanya kesamaan fakta di berbagai belahan dunia, bahwa anak-anak generasi sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional ketimbang pendahulunya. Mereka lebih kesepian dan pemurung, tapi di sisi lain, lebih galak dan kurang menghargai sopan santun. Lebih gugup dan mudah cemas, serta lebih impulsif dan agresif. Tak jarang mereka menarik diri dari pergaulan, lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi-sembunyi, kurang bersemangat, dan tentu saja kurang bahagia.

Data juga menunjukkan, kesejahteraan serta daya sosial anak dan remaja merosot jauh. Makin banyak di antara mereka yang meninggal karena penyalahgunaan obat bius, bunuh diri dengan alasan sepele, atau melakukan tindak kriminal di usia belasan tahun.

Menurut data pada tahun 2003, 1.800.000 anak Indonesia menjadi pecandu narkoba dan 11.344 anak ditangkap polisi karena melakukan tindak kriminal.

Hal itu terjadi karena IQ hanya berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis dan analitis (otak kiri). Sedangkan EQ lebih banyak berhubungan dengan perasaan dan emosi (otak kanan).

Seorang teman bercerita, saat berpesawat dari Surabaya ke Jakarta, dia mendapati Hardjono, kawannya, duduk di kursi yang bukan jatahnya. Saat itulah, Maya, si pramugari datang, “Maaf, Bapak sudah mencocokkan nomor di tiket dengan nomor di kursi? Kalau ada kesulitan, biar saya bantu, Pak,” tegurnya halus. Hardjono tersenyum, dan segera sadar akan kekeliruannya.

Coba bayangkan kalau Maya langsung menyuruh Hardjono pindah tempat duduk, situasinya pasti bakal beda. “Caranya ‘menyadarkan’ saya simpatik sekali,” jawab Hardjono, ketika ditanya alasannya pindah ke tempat duduknya yang benar. Si pramugari bisa disebut sebagai orang yang mempunyai EQ tinggi. Keterampilan yang butuh praktik langsung, bukan sekadar teori
dalam buku teks.

Ciptakan Komunikasi Efektif

Prof. Sarlito menengarai, banyak hal menjadi penyebab rendahnya kecerdasan emosi dewasa ini.

Beberapa di antaranya, perubahan nilai sosial dalam 40 tahun terakhir, kurangnya waktu luang orangtua untuk mengasuh anak, meningkatnya angka perceraian, pengaruh teve dan media elektronik lainnya, serta menurunnya rasa hormat terhadap insitusi sekolah.

Tak kalah penting, adanya orangtua seperti ibu Yola itu. J. Drost S.J. dalam sebuah seminar di Jakarta menggarisbawahi, “pemaksaan” seperti dilakukan ibu Yola sebagai hal yang betul-betul dapat menghancurkan kecerdasan emosi anak. Bocah yang masih mencari jati diri kok dipaksa hidup pada tingkat intelektual yang tidak sesuai dengan dirinya. Sama seperti anak yang tidak kuat di mata pelajaran matematika, tapi dipaksa orangtuanya masuk jurusan IPA. Hasilnya, amburadul!

Untungnya, tidak seperti IQ, EQ dapat- dikembangkan dalam segala tingkat usia. Paling afdol tentu sejak tahap awal perkembangan anak. Orangtua sebaiknya membangun keluarga dengan landasan sikap-sikap positif, seperti menekankan pentingnya berbagi dengan sesama, saling menyayangi, dan berorientasi mencari solusi. Komunikasi efektif harus diciptakan,
agar anak terangsang untuk mendengar, mengerti, dan berpikir.

Disiplin juga perlu, tapi yang lebih mengutamakan self direction dan upaya memperbaiki diri. Sejak dini, orangtua dapat mengajak anaknya berempati pada masalah orang lain. Misalnya, sekali-kali ajak mereka jalan-jalan menyusuri rumah kawannya yang sederhana. Agar ia tahu, di luar lingkungan keluarganya (rumah besar dengan banyak perabot), banyak anak yang harus tidur berpayung atap bocor, dan beralas tikan tipis.

Selain berempati, ajak juga anak mengekspresikan emosinya. Misalnya, jika sedang senang, tunjukkanlah agar orang lain ikut gembira. Sebaliknya, jika hendak marah, salurkan lewat cara yang tepat, agar tak semua orang menjadi sasaran kemarahan. Ciptakan pembelajaran begitu rupa, sehingga anak mampu mengendalikan emosinya, mudah beradaptasi dengan lingkungan,
serta mampu mencari jalan keluar atas berbagai masalah yang dihadapi.

Tanamkan sifat gigih, suka menolong, dan menghormati orang lain. Pendek kata, orangtua ditantang untuk mengembangkan anaknya, agar tak hanya memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi, tapi juga kaya wawasan dan tetap manusiawi. Berat memang. Itu sebabnya, pekerjaan besar ini harus dicicil sejak anak masih kecil.

Dengan EQ tinggi, jika kelak ia lulus dari perguruan tinggi dengan nilai pas-pasan, jalan menuju sukses tak akan tertutup. Sebab, dalam dirinya sudah tertanam kepercayaan diri yang tinggi, yang didapatnya dari pergaulan dengan banyak orang, kenal banyak kalangan, dan luwes dalam berteman.

Pemilik EQ tinggi juga mampu menguasai emosi dan memiliki mental sehat, serta pandai menempatkan diri. Lantaran mengerti tempatnya di dunia itulah ia selalu mempunyai sikap batin yang tepat, sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat pula.

Jadi, biarkan Yola tak mendapatkan ranking pertama di kelasnya. Yang penting, kemampuan akademiknya tidak tertinggal jauh di bawah rata-rata. Sebaliknya, dorong terus agar kecerdasan emosinya terasah menjadi lebih tinggi.

Membangun keseimbangan kecerdasan intelektual dan emosional mungkin lebib berguna bagi masa depan ketimbang memaksakan keinginan seperti ibu Yola.

Sumber: intisari

Entry filed under: Artikel. Tags: , , , , .

“Good Wan! (Good One!)” [SOLD OUT] Di Jual Printer Epson LQ 2180 Second

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed



%d blogger menyukai ini: